marketiva_forex
Google
 

18.6.11

Happy person

In order to be a good person and a happy person, it's not necessary to practice Buddhism, or for that matter any religion.

After all, neither is needed for virtuous states of mind such as kindness, love, respect for others and a desire to help them to arise.

It is these positive states of mind themselves that bring happiness to the individual and the people he or she engages with, therefore as we're all seeking happiness, it makes sense to try to be as good as possible.

- Dalai Lama -

[+/-] More | Selengkapnya ..

learn

stop learning only when you are dead

[+/-] More | Selengkapnya ..

15.6.11

Cintaku

....... Cintaku, sayangku, kekasihku .......
Apapun yang terjadi, bagaimanapun sikapmu padaku
Pintu hatiku selalu terbuka untukmu
Kamu selalu kan disambut disana

[+/-] More | Selengkapnya ..

14.6.11

Kisah Keledai Malang

Kisah ini bercerita bercerita tentang seekor keledai kepunyaan seorang petani yang pada suatu hari secara tidak sengaja terjatuh kedalam sumur tua yang dalam. Keledai tersebut menangis tersedu-sedu beberapa lamanya, karena si petani, empunya keledai, tidak tahu harus berbuat apa untuk mengeluarkan keledai itu dari dalam sumur. Karena putus asa akhirnya si petani memutuskan bahwa hewan itu dibiarkannya saja mati dan ditimbun dalam sumur tua tersebur. Dipikirnya hewan itu sudah tua sementara sumur tua tersebut juga perlu ditimbun karena sudah rapuh dan berbahaya.
Menurutnya tidak berguna untuk menolong si keledai.

Lalu ia kemudian mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya menimbun sumur tua itu.

donkey_wisdom

Mereka mulai membawa sekop dan mulai menyekop tanah kedalam sumur. Sementara ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis makin menjadi-jadi penuh kengerian. Tetapi herannya,semua orang mendadak takjub, karena si keledai manjadi diam dan berhenti menangis.

Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan kedalam sumur, si petani melihat kedalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggung nya terus ditimpa oleh bersekop - sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan.

Ia menguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun kebawah, lalu dinaikinya gundukan tanah yang terbentuk. Sementara si petani dan tetangga-tetangganya tetap meneruskan menuang tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai juga terus mengguncangkan badannya dan melangkah semakin naik.

Segera saja, semua orang terpesona ketika keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri !

Nilai moralnya :

Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepada kita, segala macam jenis tanah dan kotoran.

Cara untuk keluar dari "sumur" ( kesedihan, masalah, dan sebagainya ) adalah dengan mengguncangkan segala tanah dan kotoran tersebut dari diri kita ( pikiran dan hati kita ) kemudian melangkah naik berusaha keluar dari "sumur" tersebut ,dengan menggunakan hal - hal yang mengotori kita itu sebagai pijakan untuk melangkah.

Kita dapat keluar dari "sumur" yang terdalam dengan terus berjuang, jangan menyerah !! Marilah kita ingat senantiasa aturan sederhana tentang kebahagiaan berikut ini:

1. bebaskan dirimu dari kebencian

2. bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan

3. nikmati hidup

4. berilah lebih banyak

5. berharaplah lebih sedikit

6. tersenyumlah

7. miliki teman yang bisa membuat engkau tersenyum

[+/-] More | Selengkapnya ..

Mengendalikan nafsu dan amarah

Dari sebuah tulisan Ajahn Brahm, dikatakan bahwa: Semakin sering kita melampiaskan nafsu dan amarah, semakin besar kecenderungan batin untuk mengulanginya.

ajahn_brahm
Begitupula, semakin sering kita melatih atau mengembangkan sati (perhatian murni/ kewaspadaan), cinta kasih, kesabaran, pengendalian diri, konsentrasi, usaha benar, perbuatan baik melalui pikiran, ucapan dan jasmani, dan semua kualitas batin yang baik lainnya; maka semakin besar pula kecenderungan batin untuk mengulanginya tanpa disengaja alias alami. Tampaknya, akumulasi kebiasaan bisa membentuk karakter dan karakter menentukan kebahagiaan dan masa depan.

Ada beberapa tips untuk mengendalikan kemarahan:

1. Bangun KOMUNIKASI bukan kemarahan.
Tegas tapi bukan kebencian. Berorientasi pada tujuan (goal oriented) dengan cara yang bijak, taktis dan cerdik.
Contoh: Saat menghadapi kriminal/ penjahat yang mengancam keselamatan dan tidak bisa diajak kompromi, kita boleh membentaknya untuk menakuti atau menghalau mereka, tanpa kebencian. Kalo terpaksa "melumpuhkannya", hanya sekedar "melumpuhkannya" tanpa kebencian atau niat jahat.

2. Kembangkan SATI (perhatian/kewaspadaan), perenungan Dhamma, atau WELAS ASIH setiap saat.
Mengembangkan SATI, melaksanakan Vipassana Bhavana, penuh kesadaran terhadap gerak-gerik jasmani dan batin (perasaan & pikiran) yang timbul lenyap dan berubah-ubah seenaknya, tidak memuaskan, tidak bisa diandalkan, bukan diri, bukan kita, bukan milik kita; semata fenomena dengan sifat, prilaku dan kondisi penunjangnya sendiri yang khas dan alami (anicca, dukkha, anatta).

3. MEMAKLUMI
bahwa kita dan para makhluk pada umumnya masih diliputi kegelapan batin AVIJJA dlm bentuk LOBHA (keserakahan, kehausan), DOSA (kebencian) dan MOHA (ketidaktahuan, kelengahan). Juga dengan mengingat bhw sesungguhnya semua makhluk diliputi penderitaan, anicca, dukkha dan anatta; diharapkan kita bisa menumbuhkan welas asih, rasa MAHA MAKLUM dan pengampunan atas "keanehan, ke-tidakmasukakal-an" yang ada pada mereka.

4. Mengingat BUDI BAIK atau kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan orang yang sedang membuat kita marah.

5. Mengingat AKIBAT BURUK dari kemarahan, baik pada diri sendiri, orang yg kita cintai, bahkan juga musuh kita. (Akibat buruk di masa sekarang maupun yg menanti di masa depan)

6. YONISO MANASIKARA
Mengarahkan pikiran pada hal-hal yang bermanfaat dan positif, tidak memberi perhatian atau mengingat hal-hal yang menimbulkan kemarahan, merenungkan Tilakkhana, Berkah Utama dan 8 Kondisi Duniawi (Note: Sabar dan memiliki batin yang tak mudah tergoncangkan oleh suka duka, untung rugi, dipuji dicela, terkenal tak terkenal termasuk berkah utama)

7. Diam/berkata dg intonasi yang lembut, dan memancarkan metta karuna, dapat meredakan kemarahan seseorang.
Setidaknya bertahan untuk diam, menunda mengambil keputusan yang "gegabah" saat sedang marah, membuat kita tidak menyesal kemudian.

8. Merenungkan sifat mulia Buddha, Dhamma, Sangha seperti kebijaksanaan sempurna, welas asih, kesabaran dan pengampunan tanpa batas, kebajikan dan kelurusan atau kemurnian tanpa cela, dsb.

9. Merenungkan bahwa diri sendiri dan setiap makhluk adalah pewaris karmanya masing-masing.
Laksana orang yang baru sembuh dari penyakit menahun atau yang baru terbebas dari hutang setelah sekian lama, kemudian dia bersorak, bersyukur, merasa gembira, lega, bersemangat untuk melakukan hal-hal bermanfaat yang selama ini ingin ia kerjakan, bersemangat untuk memulai kembali segalanya dengan cara yg lebih cerdik, bijak, dan waspada; begitulah hendaknya kita bersikap saat menghadapi akibat karma buruk yang tengah berbuah.


10. Merenungkan bahwa setiap makhluk suatu hari pasti akan mati.

11. Bergaul dengan para bijaksana, gemar belajar dan mencintai Dhamma.

12. Melatih ANAPANASATI (untuk melatih kekuatan kewaspadaan/ sati dan konsentrasi/ samadhi) dan/ atau metta bhavana.
Dalam Kayagatasati Sutta dikatakan bahwa melakukan perenungan terhadap badan jasmani (termasuk bermeditasi ANAPANASATI) bila dikembangkan akan menghasilkan banyak buah, diantaranya mampu sabar menahan kata-kata kasar.

Seandainya suatu hari kita terlanjur marah, jangan kecil hati dan jangan gelisah karena itu. Karena yang pasti kita sudah lebih baik dari hari-hari kemarin. Berbahagialah. Yang penting minta maaf dan bertekad tidak mengulangi perbuatan tersebut, serta hendaknya kita tetap mempertahankan ketenangan batin & konsentrasi, serta mengembangkan WELAS ASIH untuk tetap... MAJU TERUS... memanfaatkan setiap momen dengan mengasihi, berbagi, berkarya dan berlatih.

[+/-] More | Selengkapnya ..